Bangka Selatan

Huobi Indonesia Masuk Daftar 99 Perusahaan Investasi Bermasalah, Mega Proyek Kawasan Industri Sadai Mungkinkah Berlanjut?

* Ketua DPRD Basel Meragukan Proyek KIS

Foto :Sejumlah alat berat tampak berada di lokasi proyek KIS, Bangka Selatan. (Try)

BANGKASELATAN,SpotBerita– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Selatan (Basel) saat ini sedang melaksanakan pembangunan Kawasan Industri Sadaii (KIS), bahkan keseriusan pihak Pemkab Basel pun dalam hal ini telah mengupayakan kegiatan pembebasan lahan untuk kepentingan proyek bernilai triliunan ini.

Namun di sisi lain, kegiatan pembangunan proyek KIS tersebut pihak Pemkab Basel tentunya bekerja sama dengan pihak swasta yakni PT Ration Bangka Abadi (RBA) sebagai pihak pelaksana kegiata

Tak sekedar itu dalam kegiatan mega proyek ini tentunya membutukan dana yang tak sedikit, oleh karenanya pihak PT RBA pun ikut menggandeng sebuah perusahaan besar asal negara Cina (RRC) yakni PT Huobi Indonesia tersebut.

Sayangnya dalam hal ini PT Huoibi Indonesia diduga ‘tersandung’ dalam sebuah kasus investasi bodong di negara Indonesia, bahkan perusahaan asal Cina ini pun akhirnya masuk dalam daftar 99 perusahaan investasi bermasalah.

Foto : Pintu gerbang masuk lokasi KIS Bangka Selatan. (Try)

Hal tersebut terungkap yakni informasi dari laman sebuah media online CNBC yang sempat memuat pemberitaan tentang perusahaan Huobi Indonesia dengan judul ‘ Daftar 99 Investasi Bodong dan Modus Busuknya Jebak Warga’, dalam berita online (CNBC) ditayang pada tanggal 4 Juli 2020 lalu.

Mengutip dari pemberitaan di media online itu (CNBC) itu disebutkan jika tim Satgas Waspada Investasi telah menyetop operasi dari 99 investasi bodong.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing mengatakan 99 investasi bodong ini menawarkan imbal hasil yang menggiurkan tanpa risiko. Hal ini menjadi penarik bagi masyarakat yang lagi susah.

Foto : Inilah daftar sebagian perusahaan investasi bodong yang ditutup pihak OJK termasuk Huobi Indonesia, dikutip dari web media CNBC. (net)

Tongam juga mengimbau kepada masyarakat agar sebelum melakukan investasi untuk memastikan beberapa hal. Pertama, memastikan pihak yang menawarkan investasi tersebut memiliki perizinan dari otoritas yang berwenang sesuai dengan kegiatan usaha yang dijalankan.

Foto : Kantor PT RBA berlokasi di kawasan proyek KIS Basel. (Try)

Kedua, memastikan pihak yang menawarkan produk investasi, memiliki izin dalam menawarkan produk investasi atau tercatat sebagai mitra pemasar. Ketiga, memastikan jika terdapat pencantuman logo instansi atau lembaga pemerintah dalam media penawarannya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Sekedar informasi saja, dari 99 entitas tersebut, 87 Perdagangan Berjangka atau Forex Ilegal, 2 Penjualan Langsung (Direct Selling) Ilegal, 3 Investasi Cryptocurrency Ilegal, 3 Investasi uang, dan 4 lainnya.

Selain itu sekedar diketahui, HuobipHuobi Indonesia ini merupakan perusahaan perdagangan matan uang digital atau cryptocurrency.

Perusahaan asing ini mencoba menjajal pasar mata uang digital di Indonesia. Perusahaan asal China ini resmi beroperasi di Indonesia lewat Huobi Indonesia Digital Currency Exchange pada 7 September 2018.

Huobi masuk ke Indonesia dengan menghadirkansitus huobi.com.co sebagai flatform pertukaran mata uang digital yang diklaim menawarkan keamanan, kenyamanan, dan stabilitas. Platform ini berbasiskan platform teknologi cloud Huobi cloud yang siap memberikan layanan perdagangan mata uang digital.

Sementara PT RBA selaku pihak pengelola KIS), di Desa Sadai Kecamatan Tukak Sadai, Kabupaten Basel menjalin kesepakatan dengan Houbi Indonesia tak lain guna mengembangkan investasi menggunakan aset ekonomi digital dan blockchain.

Foto : Lokasi lahan yang sudah digarap untuk kepentingan proyek pembangunan KIS Bangka Selatan. (Try)

Blockhacin adalah transaksi digital yang terdesentralisasi, memeriksa dan memverifikasi setiap proses penarikan, pembayaran, dan perdagangan.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh Direktur Utama PT Ration Bangka Abadi Vindyarto Purba dan CoFounder Huobi Indonesia Alex Wan di Jakarta beberapa waktu lalu.

Sementara Virdayanto Purba merasa optimis terkait mega proyek di Kabupaten Basel, bahkan pernyataannya ini pun di salah satu media online sempat mengatakan jika pembangunan KISS tersebut diyakininya akan cepat, hal itu lantaran diyakininya jika KISS telah masukkan 19 KI prioritas dalam RPJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) 2020-2024.

Terkait hal perusahaan Huobi Indonesia saat ini sempat mendapat sorotan pihak Otoritas Jasa Keuanga (OJK) yakni Satgas Waspada Investasi, tim media spotberita.com berupaya mengkonfirmasi Dirut PT RBA, Virdiyanto Purba namun sayangnya tak berhasil.

Meski sempat dihubungi melalui ponselnya namun tak ada jawaban, begitu pula saat dikonfirmasi melalui pesan singkat (WhatsApp/WA) tetap tidak ada jawaban.

Sementara staf khusus gubernur Babel, Safarudin sempat dikonfirmasi justru membenarkan jika saat ini di provinsi kepulauan Babel sedang dilaksanakan kegiatan program pembangunan KIS, Toboali Basel dengan melibatkan pihak swasta.

“Iya memang saat ini ada kegiatan pembangunan Kawasan Industri Sadai (KIS — red) dan saat ini sedang berjalan. Dalam pelaksanaan pembangunan kawasan itu (KIS — red) pihak Pemkab Bangka Selatan bekerja sama dengan pihak swasta,” kata Safarudin saat ditemui di kantor gubernur Babel.

Foto : Safarudin. (Ian)

Namun di lain pihak, ditegaskan Safarudin jika Pemprov Babel ikut pula mendukung program pembangunan KIS tersebut yakni melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau PT Bumi Bangka Belitung Sejahtera guna mencari investor luar daerah guna berinvestasi di provinsi kepulauan Babel khususnya di Kabupaten Basel.

“Kalau kita (Pemprov Babel — red) hanya mencari investor ke Babel ini. Alhamdulilah ada dua perusahaan asing yakni peeusahaan pembuat kaca dengan nama Xinyi Energy Glass Holdings Limited dan Sinomach Heavy Equipment Group Co. Ltd. Kedua perusahanaan asing ini memang mau berinvestasi di Bangka Selatan,” bebernya.

Lanjutnya, dua perusahaan asal negara RRC (China) ini investasinya dengan merencanakan akan membangun dua pabrik di kawasan industri tersebut (KISS) di Basel.

“Kalau perusahaan Xinyi ini rencananya akan membangun pengolahan dan pemurnian pasir silika sedangkan Sinomex ini mendirikan pabrik produksi solder cair,” terang pria biasa disapa bang Udin ini.

Saat disinggung soal berapa hektar lahan yang mesti dibutuhkan setiap pabrik tersebut, menurutnya masing-masing pabrik tersebut akan menempati lahan seluas 200 hektar (ha) dari total lahan yang telah disediakan seluas 3000 hektar di Desa Sadai..

Lantas bagaimana perkembangan pelaksanaan pembangunan KIS tersebut oleh pihak swasta, Udin justru tak banyak berkomentar, hanya saja Udin mengatakan jika dalam pembangunan KIS Basel itu Pemkab Basel bekerja sama dengan PT RBA dan perusahaan Huoibi Indonesia.

“Setahu saya pemkab Bangka Selatan bekerja sama dengan PT RBA dan perusahaan asing (Huoibi Indonesia — red),” katanya.

Saat disinggung soal kabar miring jika Huoibi Indonesia saat ini sedang bermasalah terkait bisinis usaha investasi di Indonesia dan dianggap berrmasalah pihak OJK, namun Udin saat itu malah sempat terkejut.

“Ah masa?, saya belum tahu infonya seperti itu,” kata Udin.

Meski begitu Udin sendiri sempat menilai jika permasalahan yang terjadi para perusahaan asing itu yakni persoalan Crypto Currency.

“Sebenarnya permasalahannya yakni Crypto Currency. Tapi sebetulnya bukan masalah sih tapi karena di Indonesia ini belum ada yang mengaturnya jadi dianggap itu bermasalah,” terangnya.

Foto : Ketua DPRD Basel, Erwin Asmadi. (Ist)

Sementara ituk ketua DPRD Basel, Erwin Asmadi justru mengaku jika ia sendiri sampai saat ini merasa pesimis terhadap mega proyek KiS Basel ini.

“Awalnya antara percaya dan tidak percaya. Saya juga masih ragu akan proyek itu,” ungkap politikus asal PDIP ini saat dihubungi melalui ponselnya beberapa waktu lalu, Rabu (5/8/2020) malam.

Meski begitu diketahui saat ini pelaksanaan pekerjaan pembangunan KIS justru masihlah berjalan atau semacam kegiatan landclearing.

Bahkan saat ini di lokasi atau lahan yang sedang digarap tersebut dan itu pun menurutnya terdapat bangunan permanen layaknya kantor, termasuk bangunan permanen lainnya berupa mess yang akan digunakan untuk menampung tenaga kerja asing (TKA) di lokasi KIS.

Ia pun membenarkan jika untuk kepentingan pembangunan KIS di Basel ini pihak Pemkab Basel saat ini telah menyediakan lahan hingga seluas mencapai 3000 hektar meski saat ini diketahuinya progres pembebasan lahan baru sekitar 400 hektar.

Bahkan ia sendiri sampai saat ini masihlah menyangsikan mega proyek KIS berjalan lancar, hal.tersebut ia malah mengkhawatirkan jika proyek KIS di Basel tak lain.diduganya proyek yang ujung-ujungnya Pemda Basel yang bakal dirugikan.

Bahkan sebelumnya atau sehari sebelum lebaran Idul Adha tahun ini, ia malah mengaku sempat meninjau lokasi kegiatan pembangunan KIS di Desa Sadai, Basel dengan maksud ingin mengetahui perkembangan kegiatan tersebut.

Namun setiba di lokasi justru bayangan negatif terlintas di benaknya menyangsikan terkait kondisi ril saat menyaksikan langsung kawasan tersebut (KIS).

“Sehari sebelum lebaran ini (Idul Adha — red) saya sempat masuk ke lokasi KIS itu. Ah kalau ini ini sih masih jauh (sangsi — red) kata saya dalam hati. Saya lihat saat itu masih land clearing terus. Bahkan di lokasi itu pun terpampang papan bertuliskan Grand Opening menghadirkan Presiden Jokowi,” singgungnya.

Foto : Bupati Basel, Justiar Nur. (Ian)

Sementara itu bupati Basel, Justiar Nur mengatakan jika sesungguhnya PT RBA bukan selaku pihak yang membangun KIS, sebaliknya hanya sebagai pengelola. Bahkan dalam pengelolaan KIS ini pun ditegaskanya pihak PT RBA menggunakan jasa konsultan asal negara Francis.

“Jadi sampai sejauh itu mereka mengupayakan dalam pengelolaan sekaligus untuk investasi di Kawasan Industri Sadai (KIS — red) itu,” ungkap Justiar.

Ia menambahkan lahan di KIS itu sesungguhnya pun merupakan kawasan yang sangat mahal lantaran berdasarkan Kepres (Keputusan Presiden) dan semua sudah ada perijinannya.

“Kalau mau tahu justru Sadai lebih dikenal dunia dari pada Indonesia,” katanya.

Saat disinggung kembali soal PT Huobi Indonesia belum lama ini sempat bermasalah di pihak OJK lantaran persoalan bisnis investasi dianggap bodong.

Namun hal itu menurut Justiar sebenarnya sudah ditanggapi oleh salah seorang pengamat keuangan nasional. Sebaliknya menurutnya pihak PT RBA justeru tak main-main dalam mega proyek KIS di Kabupaten Basel ini.(Ian/Try)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close