Nasional

Inilah Sejarah Orang Bangka

Lima Abad Lalu Orang Bangka Sudah Di Lingga

Foto : Peta daerah-daerah Kepulauan Riau. (Istimewa)
NASIONAL,SpotBerita – Masyarakat asal pulau Bangka yang menetap di daerah Kepulau Riau (Kepri) sangatlah berperan penting dalam lini kehidupan masyarakat di daerah setempat, bahkan keberadaan orang Bangka cukup dominan dan cukup memberi warna dalam kehidupan masyarakat Kabupaten Lingga, Kepri baik dibidang budaya, ekonomi, maupun politik.
Kondisi tersebut terungkap saat acara bedah buku dengan judul ‘Lima Abad Lalu Orang Bangka Sudah Di Lingga’ digelar oleh pihak Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lingga, Kepri belum lama ini.
Buku ini di tulis oleh Drs Said Barakbah Ali M MPd dan Drs Abdul Haji, saat itu acara dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah  Pemkab Lingga, DR Juramadi Esram  SH MH.
Kegiatan Bedah Buku ini bertindak sebagai narasumber para penulis buku, Drs H Akhmad Elvian (Sekretaris Lembaga Adat Melayu Kepulauan Bangka Belitung). Dakam buku ini pun juga membahas tentang hijrahnya orang-orang Bangka dari Pulau Bangka ke daerah Lingga, dan sebaliknya orang-orang Lingga ke Pulau Bangka.
Penulis Drs Abdul Haji menjelaskan orang Bangka pertama ke Lingga pada abad ke 15 yakni 300 tahun atau 3 Abad sebelum Sultan Mahmud Riwayat Syah memindahkan pusat kerajaan di Daik Lingga dari Riau.
“Sultan Mahmud pindah ke Daik Lingga pada Abad ke 18 jadi sampai sekarang 2018, orang Bangka di Lingga sudah mencapai kurang lebih 500 tahun, atau 5 Abad. Orang-orang Bangka adalah orang yang pertama kali diam atau membuat perkampungan di Lingga,” ujarnya.
Selanjutnya, bersama dengan keluarga Megar Kuning dari Jambi, dan orang-orang Mantang atau Baris, menurut ia jika orang-orang inilah suku asli Lingga,yang pertama.
Sementara budayawan Kepulauan Bangka Belitung Bapak Drs Akhmad Elvian menjelaskan buku ini menjelaskan diaspora orang Bangka di Lingga dan juga menjelaskan tentang konstelasi politik dan ekonomi yang berkembang di kawasan Selat Bangka, Selat Malaka dan Selat Karimah pada masa hemegomoni bangsa asing kulit putih mulai menancapkan kuku kekuasaannya.
“Tarik-menarik hubungan dan pengaruh antar kekuasaan di wilayah yang dinamakan kawasan pantai-pantai niaga yang favorit. Antara Kesultanan Palembang dengan Kerajaan Johor dan VOC semakin meramaikan catatan sejarah kawasan ini,” ungkap Akhmad Elvian.
Dijelaskanya lagi, hubungan yang erat antara Bangka dan Lingga dalam konteks politik, sosial dan ekonomi sudah terajut ketika seorang Seorang Depati dari tanah Bangka Depati Djeroek, bernama Dekati Karim atau Dapati Angoer ikut membantu Panglima Raman dari Lingga berperang melawan VOC dan Palembang.
Akmad Elvian juga menjelaskan jika buku ” Lima Abad Lalu Orang Bangka Sudah Di Lingga  justru hal ini sangat penting karena berisi catatan tentang sejarah dan budaya antar dua wilayah administratif pemerintahan yang berbeda.
“Di saat kondisi Indonesia yang rawan disintegrasi saat ini upaya menyambungkan jembatan budaya antara Bangka dan Lingga adalah contoh menarik untuk membangun dan menumpuk semangat keindonesiaan,” terangnya.
Bagi masyarakat di pulau Bangka akan diperoleh data dan informasi sejarah tentang masyarakat pulau Bangka yang berada di luar pulau Bangka.
Kebutuhan terhadap sebuah tulisan sejarah dan budaya masyarakat pulau Bangka adalah sesuatu yang sangat penting dan mendasar, mengingat sejarah dan budaya pulau Bangka selama ini belum terekam dengan baik dalam bentuk tulisan sejarah.
“Sehingga cerita-cerita lisan dan sastra lisan dan interpretasi-intrpteretasi terhadap sumber-sumber sejarah dan budaya tentang pulau Bangka begitu mudah terlupakan, mudah-mudahan buku ini dapat menjadi sumber edukasi, informasi, inspirasi dan rekreasi, terutama untuk menumbuhkan semangat kesadaran sejarah dan kesadaran budaya serta kecintaan generasi muda pada bangsa dan Negara,” harapnya.
(*/Ismail Tiger Law)
Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close