Pangkalpinang

Terkait Statement Lurah Batin Tikal, Respon Raden Nico “Jangan Cekik Leher Pedagang Kecil”

 

PANGKALPINANG,SpotBerita – Sebagai Ketua Persatuan Pedagang Kecil Millenial (PPKM) Raden Nico sangat menyayangkan adanya statement lurah Batin Tikal terkait pedang kaki lima (PKL) yang berjualan di depan SMK 1 pangkalpinang.

Menurut Raden Nico yang dijumpai awak media saat mengunjungi pedagang mengatakan bahwa PPKM adalah rumah besar bagi anggota nya yaitu pedagang kecil untuk menyampaikan aspirasi dan bernaung. Selasa, 21/12/2021

“Kami dari PPKM juga sebagai penyambung lidah antara pedagang dan pemerintah daerah, PPKM pun selalu mengajak para pedagang untuk mendukung segala bentuk program pemerintah terkhusus pembangunan dan penataan kota. Namun tanpa mengeyampingkan hak dan keberlangsungan anggota PPKM yaitu pedagang”, ujar Raden Nico.

Terkait Pernyataan Lurah Batin Tikal yang di lansir sebelumnya disalah satu media yang mana pedagang di SMK 1 tersebut mau di gusur atau di pindahkan dengan alasan merampas hak pejalan kaki karena berjualan di atas trotoar dan terkesan kumuh berada di kawasan rumah pejabat.
Tidak hanya itu pedagang pun di anggap membandel.

“Para pedagang ini sebetulnya gampang kok di atur asalkan mereka di beri solusi, namun terkadang solusi yang diberi tidak berimbang atas keberlangsungan para pedagang yang jika di paksakan akan memancing ricuhnya para pedagang.
PKL ini tidak mencari kaya kok, di tengah pandemi ini pedagang hanya bertahan dalam usaha menafkahi keluarganya.
Pedagang di pindahkan ke lahan yang sudah diarahkan oleh bapak lurah batin Tikal dengan membayar perbulan 900 ribu satu orang seperti yang dikatakan pak lurah di pemberitaan beberapa hari yang lalu dan menurut pedagang mereka semua tidak tahu tentang bayar 900 ribu itu sebelumnya, pedagang merasa dijebak seolah disuruh pindah dulu baru diterapkan harus membayar 900 ribu perbulan atau 30 ribu perharinya. perlu diketahui jika kita merujuk pada UMKM, maka PKL ini adalah kasta paling bawah yaitu mikro. bayangkan jika SATPOL PP melakukan penertiban paksa atas permintaan pihak lurah, maka pandangan pedagang yang tidak paham Pol PP lah yang bekerja sama dengan pihak lurah menjebak pedagang di lahan yang dimaksud.
Saya rasa jika pedagang diharuskan pindah dan membayar di angka yang cukup besar itu di lahan yang baru yang sudah diarahkan pak lurah yang belum tentu juga menunjang aktifitas dagang maka ini bukan solusi, ini sama saja kita mencekik leher pedagang yang sedang kesusahan”. tegas Raden Nico

Nelson salah satu PKL berjualan donat di depan SMK 1 mengatakan “saya ini sudah sekitar 20 tahun berjualan disini, sekarang kami ingin dipindahkan pak lurah dan kami tidak diberi solusi yang pas untuk jualan kami laku. Kami pun tidak tahu sebelumnya jika di haruskan membayar 900 ribu perbulan di lahan yang dimaksud pak lurah itu, kami sangat keberatan jika dipungut 900 ribu perbulan, kami jelas menolak itu dan kami pedagang disini berharap kepada bapak Raden nico sebagai ketua pedagang untuk tegas menyikapi nasib kami ini”. keluh Nelson

Ketua PPKM pun menambahkan “kami dari PPKM sedang gencar berkolaborasi dengan pemerintah dan semua pihak untuk berupaya mendongkrak pedagang kecil ini, memberi mereka semangat untuk komitmen dalam profesi sebagai pedagang. Melalui kegiatan kecil kami membantu meningkatkan daya jual pedagang, di tengah pandemi ini kita tidak bisa lari dari goyangnya ekonomi global. Maka saya tegaskan PKL ini salah satu bagian pondasi ekonomi daerah, melalui PKL ini perekonomian daerah kita terus berputar. Jadi jangan hanya menilai pedagang itu perusak pemandangan saja”.

“Perlu di ketahui bahwa PPKM tidak membenarkan berjualan di atas trotoar namun hendaknya penertiban ini dilakukan merata tidak tebang pilih dan ada nya solusi berimbang, Pedagang depan smk 1 pun ikut mengawasi kebersihan di area tersebut. Pedagang pun hanya menggunakan Tenda Bantuan yang di berikan khusus untuk pedagang, ada beberapa tenda memang stay disitu karena jika di bongkar pasang maka tenda itu akan cepat rusak, hanya ada satu yang menggunakan rangka baja ringan, itupun sudah saya himbau segera ganti dengan yang bukan permanen.” tutup Raden Nico
(Yudha)

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close