Belitung

Tim Lembaga Investigasi Negara Temukan Kawasan Mangrove Belitung Luluh Lantak Dihajar Tambang Ilegal

Foto : Kepala Divisi Investigasi Lingkungan Hidup & Satwa LIN Provinsi Babel, Yudistira saat turut meninjau lokasi kawasan mangrove kini luluh lantak akibat tambang ilegal. (Irpan)

BELITUNG,SpotBerita – Kabupaten Belitung dikenal sebagai kota wisata hingga manca negara lantaran memiliki sejuta pesona alamnya. Namun sayangnya kawasan mangrove di kabupaten ini justru luluh lantak lantaran dihajar aktifitas penambangan pasir timah diduga ilegal.

Kondisi kawasan mangrove di Desa Lasar Tungkup Ulim, Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung kini hancur hingga sempat menyita perhatian serius dari tim Lembaga Investigasi Negara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (LIN Babel).

Selanjutnya, Sabtu (10/10/2020) siang tim LIN Provinsi Babel perwakilan Belitung langsung turun ke lokasi guna melakukan investigasi di lapangan setelah sebelumnya tim sempat mendapat informasi dari media sosial (medsos) terkait kondisi kawasan mangrove di desa setempat luluh lantak akibat aktifitas tambang ilegal.

Foto : Inilah kawasan mangrove kini mengalami kerusakan total akibat aktifitas tambang pasir timah ilegal. (Irpan)

Anggota yang tergabung dalam tim LIN Provinsi Babel ini yakni Nurul Hidayah (wakil ketua LIN Provinsi Babel), Yudistira (kepala Divisi Investigasi Lingkungan Hidup & Satwa) dan Irfan saat itu sempat menyaksikan sejumlah alat berat (escavator) terlihat sedang beroperasi di kawasan setempat.

Foto : Alat berat sedang beroperasi di lokasi kawasan mangrove. (Irpan)

Kepada tim reporter spotberita.com Nurul menceritakan jika kondisi kawasan mangrove di desa setempat menurutnya memang kini telah hancur bahkan diperkirakanya kerusakan mangrove setempat mencapai lebih dari 2 hektar (ha).

“Kurang lebih sekitar dua hektar kawasan mangrove mengalami kerusakan saat tim kami melakukan survai ke lokasi,” kata Nurul, Sabtu (10/10/2020) malam.

Foto : Inilah alat yang digunakan di lokasi kawasan mangrove setempat. (Irpan)

Sementara itu, Yudistira Kepala Divisi Investigasi Lingkungan Hidup & Satwa LIN Provinsi Babel mengatakan temuan kasus ini bermula dari sebuah akun FB dan selanjutnya timnya pun langsung menelusuri ke lokasi yaitu di desa Lasar Desa Tungkup Ulim Kecamatan Membalong, Belitung.

“Saat kita tiba di TKP (lokasi – red) ternyata kita temukan yaitu kawasan HLP (Hutan Lindung Pantai — red) dan ini sangat miris dan sangat memperhatinkan yaitu banyak sekali hutan – hutan Magrove dijarah dan dirusak oleh oknum masyarakat.

Foto : Tim LIN Provinsi Babel saat meninjau ke lokasi. (Ist)

Menurut Yudistira para oknum pelaku usaha tambang diduga telah melakukan aktivitas penambangan pasir timah di dalam kawasan mangrove setempat bahkan dengan menggunakan alat berat excavator 3 unit.

“Dan ini jelas perusakan hutan magrove untuk tambang timah demi kepentingan -kepentingan pribadi mereka,” ungkap Yudistira.

Foto : Diperkirakan lebih dari 2 hektar kawasan mangrove ini mengalami kerusakan akibat tambang ilegal. (Irpan)

Ia pun sangat menghawatirkan disaat marak-maraknya bangsa ini mengkampanyekan menanam magrove dalam menyelamatkan hutan magrove sebagai paru-paru dunia justru disini (Belitung) telah terjadi sebuah kejahatan lingkungan terhadap hutan magrove akibat aktivitas penambangan pasir timah di atas kawasan HLP.

“Jelas ini tindakan perusakan hutan magrove kalau kita merujutlk ke UU No.18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, sanksi pidananya yakni kurungan penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 20 tahun serta denda paling sedikit Rp.1,5 Miliar dan paling banyak Rp.50 Miliar,” terangnya.

Foto : Inilah lokasi kawasan mangrove di Desa Lassar Tungkup Ulim, Membalong Belitung pada koordinat -2,9693130, 107,5947000. (Irpan)

Terlebih setelah dirinya mengetahui kondisi mangrove di kawasan setempat rusak ia mengaku merasa bersedih hati melihat kerusakan-kerusakan hutan magrove akibat tambang pasir timah.

“Apalagi di dalam hutan magrove itu pasti terdapat habitat satwa-satwa ekosistem  sudah tercemar dan kini musnah akibat tambang pasir timah di kawasan HLP ini,” sesalnya.

Bahkan ia sendiri mengaku sangat menyayangkan sekali jika kegiatan penambangan pasir timah di kawasan HLP ini diduganya justru sudah lama dilakukan atau lebih dari satu tahun oleh oknum penambang liar dan terkesan adanya pembiaran.

MS selaku pihak disebut-sebut penambang di kawasan mangrove tersebut saat dikonfirmasi tim spotberita.com justru dirinya mengaku jika kawasan setempat pernah ditambang oleh pihaknya.

Bahkan dirinya mengaku siap untuk bertanggung jawab atas kegiatan penambangan timah tersebut. MS pun sempat mengatakan bahwa izin untuk kegiatan tambang justru belumlah dikantongi pihaknya.

Meski begitu, MS berjanji akan mereklamasi semua lubang-lubang yang telah mereka gali tersebut di area penambangan di kawasan HLP itu.

“Kita bertanggung jawab dan siap mereklamasi kawasan ini,” kata MS saat itu.

Di dalam kawasan itu saat tim LIN Provinsi Babel melakukan giat sidak justru menurut Yudistira malah hanya beberapa titik lobang bekas galian namun dari sekian jumlah lobang itu hanya satu lobang yang direklamasi.

Sementara itu juga dalam kawasan itu pun terdapat sejumlah tanaman atau pohon yang ditanam kembali oleh pihaknya atau reboisasi dengan tanaman jenis jambu mente.

“Nah ini sangat membuat kita merasa tergelitik atau lucu karena hutan magrove ditanam jenis tanaman jambu mente yang biasanya nota benenya di padang pasir atau di tanah tandus,” ungkap Yudistira.

Ditegaskanya jika berdasarkan UU No.41 Tahu 1999 Menteri Kehutanan menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok yaitu hutan konservasi, hutan lindung dan hutan produksi.

“Jenis hutan magrove ini merupakan hutan konservasi yang harus kita lindungi berdasarkan peraturan kementerian kehutanan Republik Indonesia No.P.44/ Menhut – II /2012,” terangnya.

Terkait kasus ini, tim LIN Provinsi Babel pun meminta kepada aparat penegak hukum untuk menindak tegas kejahatan lingkungan ini tidak ada toleransi karna hutan magrove adalah bagian dari paru-paru dunia,” harapnya.

Sebelumnya tim repoerter spotberita.com mencoba menghubungi Yuli Almadi selaku mantan kepala UPT Kehutanan Kabupaten Belitung melalui nomor ponselnya Sabtu (10/10/2020) lantaran aktifitas tambang ilegal di lokasi setempat digarap oleh para pelaku tambang dan saat itu yang bersangkutan pernah mengetahuinya.

Namun Yuli Almadi saat itu malah menyarankan agar reporter media spotberita.com agar berkoordinasi dengan pejabat baru pengggantinya. (Irpan)

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close